Rabu, 06 Mei 2009

Zal

Seorang yang mengaku bisu naik ke atas bus kota yang kutumpangi. tentunya, ia tak bisa meminta dengan suaranya karena ia bisu. Meski yang tak bisu pun mulai enggan mengeluarkan suaranya, mereka lebih suka meminta-minta dengan perantaraan sebuah kertas. Begitu juga dengan Zal. Ia mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam tasnya.Ia membagikan kertas-kertas itu. Kali ini agak berbeda dari biasanya. Biasanya, aku menerima kertas yang hanya secuit atau amplop yang juga sudah dibagi dua. Tetapi Zal membawa lembaran kertas utuh seukuran A4.
Ketika tiba saatnya Zal memberikan kertas itu kepadaku, aku membacanya. Ternyata itu sebuah surat dengan Kop yang bertuliskan tempat asal Zal, yaitu Kelurahan Aren Jaya, Bekasi Timur. Surat itu berisi keterangan mengenai siapa Zal, nama, kemudian asal, alamat, dll. Di bawah, ada tiga tanda tangan, yaitu: Zal Bisu, nenek, dan Ketua RT tempat Zal berasal. Tidak lupa, pada tanda tangan Pak RT dibubuhi cap.
Yang membuat aku sedih, adalah saat aku membaca salah satu baris di dalam surat itu yang bertuliskan "Pekerjaan : Meminta sedekah". Satu kata yang terlintas: MENYEDIHKAN.
Saya cuma berharap "meminta" tidak menjadi sesuatu yang membanggakan.

Jumat, 24 April 2009

Para Pemungut Kerikil

Seharusnya bukan aku yang bicara. Karena bila aku yang bicara di dalam diriku ini sudah ada kepentingan dan bias-bias emosi karena masa lalu itu. Tetapi sebagai awam pada umumnya, aku mendoakan.

Kini persoalannya itu bukanlah persoalan pribadi lagi. Semakin itu dibuat menjadi persoalan pribadi, semakin tidak ditemukan jalan keluarnya. Dalam situasi terjepit godaan itu justru semakin besar dan menjadi.

Baiknya bila kita mengelilinginya dan membangun benteng sebagai ibu, sebagai adik, sebagai saudara, sebagai kakak, dan sebagai orang-orang yang berharap mereka semakin mantap dalam pilihannya. Sebuah cara hidup yang tidak sama dengan cara hidup kita para awam di kehidupan duniawi.

Memang itu bukan satu-satunya persoalan dan tantangan. Mungkin itu hanya batu kerikil yang menyandung sejenak. Ada yang lalu terjatuh, tersungkur, tetapi ada juga yang bisa menjaga keseimbangan, kembali berdiri dan berjalan. Tetapi itu yang paling rentan untuk dijamah dan baik bila, bukan kita serahkan padanya dan pada-Nya seorang.

Aku mendoakan mereka untuk bisa tetap bertahan dari kerikil-kerikil itu. Selalu waspada ketika berjalan. Berhenti dan tendanglah kerikil itu jika kau tahu persis itu ada di depanmu. Begitu juga kita yang perlu mengingatkan para pejalan kaki ini dan memungut kerikil-kerikil ini agar tersedia bagi mereka jalan yang cukup bersih. Jadilah kita pohon-pohon teduh di sepanjang jalan. Biarkan kita hidup tetapi diam. Biarkan ia berjalan dan sesekali berteduh pada tubuh-tubuh kita.

Semakin banyak kerikil yang menyandung kini dan kerikil itu dikanotngi oleh si pejalan kaki karena ia menyukainya. Kerikil-kerikil ini ternyata bukan kerikil biasa tetapi seperti permata yang tampak seperti kerikil. Ketika ia dipungut, dibersihkan dan dimanja, maka menyalalah daya tariknya. Ketika itu, pejalan kaki mulai menjauh dari pohon-pohon yang meneduhinya. Ia merasa pohon-pohon itu kini menjadi ancaman baginya.

Sementara sesama pemungut kerikil akhirnya mulai saling melindungi satu sama lain. Sesama pejalan kaki tidak peduli padanya dan mengatakan bahwa itu adalah tanggung jawab pribadinya ketika tahu bahwa kerikil itu ternyata batu permata yang indah dan nikmat untuk disimpan dan dipandang.

Pejalan kaki lupa bahwa di kaki-kaki mereka banyak rumput liar yang menjalar. Rumput-rumput itu tahu persis apa yang dilakukan si pejalan kaki. Rumput itu diam karena ia berada di bawah, ia tak bisa berbicara, ia tak punya kekuatan seperti pohon yang bisa menimpa si pejalan kaki. Rumput-rumput itu akhirnya berbisik satu sama lain, menyebarkan kabar-kabar kepada angin.

Hingga akhirnya pohon mendengarnya tetapi pohon tak bisa menjangkau. Pohon terlalu tinggi, terlalu jauh untuk bisa melihat. Ia tak bisa menunduk serendah rumput dan tidak bisa mengikuti ke mana pejalan kaki pergi bersama kerikilnya. Gerak pohon terbatas.

Maka jadilah sang kerikil mulai memasuki saku-saku pejalan kaki dan disimpan rapat-rapat. Rumput tahu namun tak berkuasa melakukan sesuatu karena ia hanya alas perjalanan bagi si pejalan kaki. Ia hanya berbisik-bisik kepada sesamanya dan angin mengantarkan bisik-bisik itu kepada pohon. Pohon menerimanya dan berbisik sesama pohon tanpa pernah menggapai para pejalan kaki yang semakin hari semakin meninggalkannya.

Namun aku berharap suatu hari seseorang sesama pejalan kaki bisa mengingatkan sesamanya dan bertindak sesuatu. Katakan pada pejalan kaki yang mengantongi kerikil untuk meninggalkan dan membuangnya. Kerikil-kerikil itu suatu saat bisa berubah menjadi petaka bagi si pejalan kaki. Kerikil-kerikil itu menjadi beban yang memberatkan langkah si pejalan kaki. Ia mulai terikat dengan kerikilnya yang minta dimomong. Maka katakanlah kepada para kerikil-kerikil itu bahwa ketika kau masuk ke dalam saku para pejalan kaki, hidupmu akan terkungkung di dalamnya. Kau tak lagi bisa bersahabat dengan alam di sekitarmu.

Saku itu menjadi tempat persembunyianmu. Ia akan terus bersamamu dan kau akan terus bersamanya, tetapi dalam kebersamaan kau tidak bisa tampil bersama. Kalau kau mau menampakkan dirimu, sebelumnya kau akan dilempar jauh-jauh oleh si pejalan kaki, seolah ia tak pernah memungutmu dan mengantongimu. Begitulah hari-harimu akan berlanjut.

Aku berharap masih ada pejalan kaki yang tak tertarik untuk ikut mengantongi kerikil permata itu. Tak terbayangkan bila ternyata hampir semua pejalan kaki itu berkumpul dan menunjukkan bahwa di saku mereka masing-masing ada kerikil yang mereka simpan.

Kamis, 09 April 2009

Bertemu Kadarusman


Sepintas wajahnya memang mirip Almarhum Munir tetapi tentunya dia bukanlah Munir. Namanya Kadarusman, ia seorang pedagang Ronde di Kota Wonosobo. Meski bukan seorang pejuang HAM, saya mengagumi ketegarannya dalam menghadapi kenyataan hidup.

Sembilan bulan yang lalu, ia pulang ke rumah membawa jenazah istrinya. Istrinya terkena penyakit kanker payudara. Meski stadiumnya belum lanjut, tetapi kanker itu tumbuh di daerah tulang dada, sehingga dokter mengatakan terlalu tinggi resikonya bila kanker tersebut diangkat melalui operasi. Karena itulah Kadarusman bersama istri dan anak bungsunya mencoba mengupayakan pengobatan lain.

Selama beberapa bulan lamanya ia, istri, dan anak bungsungya berkeliling ke berbagai tempat untuk mencari cara agar istrinya dapat disembuhkan. Namun ternyata Tuhan berkata lain. “Yang penting saya sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembuhkan istri saya, tetapi ternyata Tuhan berkehendak lain,” demikianlah unggkap Kadarusman.

Secara pribadi saya terperanjat ketika ia bercerita tentang istrinya, yang meninggal di bulan Juni itu. Kisah serupa rasanya pernah saya jalani sendiri, kira-kira empat tahun lalu. Saya merasa sangat tersentuh dengan kesamaan kami. “Empat tahun lalu, mama saya juga meninggal karena kanker payudara,” kataku kepada Kadarusman. Kebetulan lainnya adalah mama saya juga meninggal pada bulan Juni.

Mendengar cerita itu terulang di telinga saya, rasanya saya ingin menangis. Kesedihan yang sudah tertutupi keseharian itu, tiba-tiba terkenang kembali. Kadarusman juga menceritakannya dengan berat, ia sepertinya juga menahan air mata, seperti juga saya.

“Sedih, tetapi kan masih ada anak-anak yang masih hidup. Yang hidup ini yang lebih membutuhkan saya, “ Kadarusman seperti menguatkan dirinya. Saya menyetujui kata-katanya itu di dalam hati. Ia masih memiliki tiga anak yang belum dewasa, tentu anak-anaknya masih sangat memerlukan ayahnya. Kesedihan karena ditinggalkan istri tidak membuatnya lalu menelatarkan anak-anaknya tetapi justru sebaliknya. Ketika ditanya apakah ia akan menikah lagi atau tidak, ia menjawab, “Terserah anak-anak, kalau mereka meminta ibu, saya akan menikah lagi. Saya nurut saja.”

Mungkin tidak semua orang akan tersentuh dengan cerita Kadarusman ini. Mungkin ini juga banyak dialami orang lain. Tetapi bagi saya, pertemuan ini mungkin memang dirancang untuk saya. Cerita itu memang diperdengarkan kepada saya. Saya yang juga kehilangan ibu karena kanker payudara di bulan Juni.

Terakhir, setelah kami selesai. Ia mengatakan kepada saya, “Yang kuat ya…seberat apapun hidup itu harus dijalani.”

0o0o0

Rabu, 01 April 2009

Pelatihan Promotor Gropesh 2009

Pelatihan Promotor Gropesh 18-19 April 2009
Info selengkapnya pada paroki, sekolah atau kampus anda.
Atau bisa juga dilihat pada http://gropesh.multiply.com/

Pendaftaran paling lambat 12 April 2009
CP: gropesh@gmail.com atau 93092243 (Xaxa)

Rata Tengah


Come join us...and let's make a difference!